Jumat, 10 September 2010
Ulti Clocks content

Sedang Online
Kami memiliki 7 Tamu onlineData Pengunjung







![]() | Hari ini | 40 |
![]() | Kemarin | 343 |
![]() | Minggu ini | 1639 |
![]() | Bulan ini | 3301 |
![]() | Total Pengunjung | 265393 |
Login Area
| Diabetes Melitus , Gambaran Klinis Dan Penatalaksanaannya |
|
|
|
| Ditulis oleh Mayor Ckm (K) dr. Eny Ambarwati, SpPD | ||||||
| Selasa, 02 Maret 2010 13:22 | ||||||
DIABETES MELITUS , GAMBARAN KLINIS
DAN PENATALAKSANAANNYA ![]() Oleh :
Mayor Ckm (K) dr. Eny
Ambarwati, SpPD / NRP. 32980
Kadep Peny. Dalam, Jantung
& Paru
RS Tk II Moh. Ridwan Meuraksa, Kesdam Jaya / Jayakarta
BAB I
PENDAHULUAN
Penyakit diabetes sudah
dikenal sejak berabad-abad sebelum Masehi. Di Mesir sekitar 1500 tahun SM,
digambarkan adanya penyakit dengan tanda-tanda banyak kencing, namun baru 200
tahun kemudian Aretaeus memberi nama penyakit tersebut dengan diabetes dari
kata diabere yang berarti siphon / tabung yaitu tempat
mengalirkan cairan dari satu tempat ke tempat lain. Cendekiawan India dan China
abad 3 - 6 M juga menemukan penyakit ini dan mengatakan bahwa urin pasien
rasanya manis. Pada tahun 1674 Willis melukiskan urin pasien tersebut seperti
diselimuti madu dan gula. Oleh karenanya sejak saat itu nama penyakit tersebut
ditambah dengan kata melitus yang berarti madu.
Menurut WHO 1980,
Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu yang tidak dapat dikatakan dalam satu
jawaban singkat dan jelas tetapi secara umum dikatakan sebagai suatu kumpulan
problema anatomik dan kimiawi. American Diabetes Association (ADA) 2005,
DM adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan ciri kadar gula darah yang
tinggi (hiperglikemia) akibat dari kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
keduanya. Hiperglikemia kronik pada DM berhubungan dengan kerusakan jangka
panjang dan kegagalan beberapa organ tubuh terutama mata, ginjal, saraf,
jantung dan pembuluh darah.
Berdasarkan penelitian
epidemiologi di Indonesia, bahwa angka prevalensi DM berkisar antara 1,5 -
2,3%. Dalam International Diabetes Federation 2000, perkiraan penduduk Indonesia diatas 20 tahun
sebesar 125 juta dan yang mengidap DM berjumlah 5,6 juta. Berdasarkan pola
pertambahan penduduk seperti saat ini, diperkirakan tahun 2020 jumlah penduduk
Indonesia 178 juta dengan pengidap DM sebesar 8,2 juta. Meningkatnya prevalensi
DM di beberapa negara berkembang, antara lain disebabkan oleh peningkatan
pendapatan perkapita dan perubahan gaya hidup terutama di kota-kota besar.
BAB II
GAMBARAN
KLINIS DIABETES MELITUS
1. Apa Itu Diabetes ?
Penyakit diabetes
yang dikenal sebagai penyakit kencing manis adalah suatu kumpulan gejala yang
timbul pada seseorang oleh karena adanya peningkatan kadar gula / glukosa darah
akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Diabetes melitus
merupakan salah satu penyakit degeneratif yang bersifat kronik. Pada tahun 1983
prevalensi DM di Jakarta tercatat sebesar 1,7%, 10 tahun kemudian prevalensinya
meningkat menjadi 5,7% dan pada tahun 2001 melonjak menjadi 12,8%. Klasifikasi
DM dikelompokkan menjadi 4 tipe yaitu DM tipe 1 yang tergantung insulin, DM
tipe 2, DM pada kehamilan dan DM tipe lain. Ada juga kelompok individu dengan
toleransi glukosa abnormal namun belum belum memenuhi kriteria DM. Kelompok ini
dimasukkan dalam toleransi glukosa terganggu (TGT).
2. Patofisiologi
Pankreas
yang disebut kelenjar ludah perut adalah kelenjar penghasil insulin yang
terletak di belakang lambung. Di dalamnya terdapat kumpulan sel berbentuk
seperti pulau yang disebut pulau Langerhans, Â berisi sel beta yang mengeluarkan hormon
insulin yang berperan dalam mengatur kadar gula darah. Insulin tersebut
berperan dalam membuka pintu sel dan apabila glukosa masuk ke dalam sel maka glukosa
tersebut dimetabolisme menjadi tenaga. Bila insulin tidak ada maka glukosa
dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel yang berakibat kadar glukosa dalam
darah meningkat. Keadaan inilah yang terjadi pada DM tipe 1. Pada DM tipe 2
jumlah insulin bisa normal bahkan lebih banyak, tetapi jumlah reseptor /
pembawa insulin di permukaan sel berkurang. Reseptor insulin ini dapat
diibaratkan sebagai lubang kunci dan insulin anak kuncinya. Meskipun anak
kuncinya (insulin) banyak tetapi jumlah lubang kuncinya (reseptor) kurang maka
glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit, sehingga sel kekurangan bahan bakar
(glukosa) dan glukosa menumpuk dalam darah. Dengan demikian keadaan ini sama
dengan keadaan DM tipe 1, bedanya adalah pada DM tipe 2 di samping kadar
glukosa darah tinggi, kadar insulin juga tinggi atau normal. Pada DM tipe 2
juga bisa ditemukan jumlah insulin cukup atau lebih tetapi kualitasnya kurang
baik, sehingga gagal membawa glukosa masuk ke dalam sel. Disamping penyebab
diatas, DM juga bisa terjadi akibat gangguan transport glukosa di dalam sel
sehingga gagal digunakan sebagai bahan bakar untuk metabolisme energi.
3. Gejala dan Tanda
Adanya
penyakit DM ini pada awalnya sering tidak dirasakan dan tidak disadari oleh
penderita. Beberapa keluhan dan gejala yang perlu mendapat perhatian pada
pasien DM ialah :
1) Keluhan klasik :
- penurunan berat badan, lemah
- banyak kencing
- banyak minum
- banyak makan
2) Keluhan lain   :
- gangguan saraf tepi / kesemutan
- gangguan penglihatan
- gatal-gatal / bisul
- gangguan ereksi
- keputihan
4. Penyebab Diabetes
Sudah lama diketahui bahwa
diabetes merupakan penyakit keturunan, artinya bila orang tuanya menderita
diabetes, anak-anaknya akan menderita diabetes juga. Hal ini memang benar,
namun faktor keturunan saja tidaklah cukup. Ada beberapa faktor risiko yang
berperan timbulnya diabetes yaitu reaksi autoimun yang disebabkan oleh infeksi
virus (insulitis) misalnya virus cocksakie, rubella, CMV dan herpes. Selain itu
ada beberapa faktor resiko lain seperti obesitas, pola makan yang salah dan
kurang olah raga sebagai pencetus timbulnya diabetes.
BAB III
PENATALAKSANAAN
DIABETES MELITUS
1. Diagnosis dan Pengobatan
Apabila ditemukan gejala dan tanda-tanda seperti diatas, sebaiknya segera
pergi ke dokter untuk berkonsultasi. Diagnosis DM hanya dapat ditegakkan
setelah terbukti dengan pemeriksaan glukosa darah. Pemeriksaan dengan air seni
sering kurang dapat dipercaya karena beberapa keadaan dapat menyebabkan negatif
maupun positif palsu. Diabetes ditegakkan bila kadar gula darah vena sewaktu > 200 mg/dL dan kadar gula darah vena puasa > 126 mg/dL. Pengelolaan DM
tanpa komplikasi akut pada umumnya selalu di mulai dengan pengaturan makanan
dan latihan jasmani dulu. Apabila dengan pendekatan tersebut belum mencapai
target yang diinginkan, baru diberikan obat-obatan baik oral maupun suntikan
insulin sesuai indikasi. Mengingat sifat DM yang menahun tak dapat dipungkiri
bahwa edukasi yang terus menerus dan berkesinambungan menjadi sangat penting.
Pada akhirnya tujuan pengobatan DM harus ditetapkan bersama antara pasien
dengan tim yang mengelola.
Tujuan utama pengobatan DM adalah ;
1)
Mengembalikan metabolisme glukosa darah menjadi senormal
mungkin  agar pasien merasa nyaman dan
sehat.
2)
Mencegah atau memperlambat timbulnya komplikasi
3)
Mendidik penderita dalam pengetahuan dan motivasi agar
dapat merawat sendiri penyakitnya sehingga mampu mandiri.
Ada empat
pilar dalam pengelolaan penyakit DM yaitu edukasi, pengaturan diet, latihan
jasmani dan terapi farmakologi / obat -obatan.
2. Komplikasi dan Pencegahan
Betapa
seriusnya penyakit DM yang menyerang pasien DM dapat dilihat pada setiap
komplikasi yang ditimbulkannya. Lebih rumit lagi penyakit DM tidak menyerang
satu organ saja, tetapi berbagai komplikasi dapat diidap secara bersamaan
seperti :
- Jantung diabetes
- Ginjal
dibetes
-
Mata diabetes
-
Saraf diabetes
-
Kaki diabetes
Pencegahan
pada DM sangat penting mengingat sifat penyakitnya menahun dan apalagi telah
terjadi komplikasi dan biaya perawatan yang mahal. Masyarakat perlu dilibatkan
dalam program pencegahan dan pengelolaan DM ini. Dengan pengetahuan yang
memadai masyarakat dilibatkan dalam program skrining kasus baru terutama pada
kelompok resiko tinggi untuk timbulnya penyakit DM yang disebut pencegahan
primer. Sementara itu bagi kelompok yang telah menjadi penyandang DM dapat
diajak melakukan pencegahan mandiri terhadap kemungkinan timbulnya komplikasi
yang disebut pencegahan sekunder atau mencegah berlanjutnya komplikasi menjadi
lebih buruk atau fatal yang disebut pencegahan tersier. Dengan program
pencegahan pada tingkat manapun akan sangat membantu penyandang DM dan keluarga
serta masyarakat secara keseluruhan.
3. Perencanaan Makan Bagi
Pasien Diabetes
Menjadi
pasien DM sering dikaitkan dengan tidak boleh makan gula. Memang benar gula
menaikkan glukosa darah namun perlu diketahui bahwa semua makanan juga
menaikkan glukosa darah. Yang perlu dilakukan adalah makan sesuai kebutuhan
kalori, teratur dalam hal jumlah,
jenis dan waktu makan.
Mungkin ada
yang ragu-ragu apakah menjadi pasien DM perlu dimasakkan terpisah dari makanan
keluarga. Jawabannya adalah tidak perlu. Sebenarnya tidak ada yang perlu
dikhawatirkan karena cara makan yang dianjurkan untuk pasien DM sebenarnya sama
dengan anjuran makan sehat untuk semua orang termasuk yang tidak DM. Adapun
makanan yang dianjurkan untuk pasien DM pada prinsipnya adalah gizi seimbang
yaitu ;
a. Makanlah aneka ragam makanan meliputi sumber zat tenaga,
sumber zat pembangun dan sumber zat kapur.
b. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi untuk
mencapai dan mempertahankan berat badan normal.
c. Makanlah makanan sumber karbohidrat, sebagian dari kebutuhan
energi dengan karbohidrat kompleks dan berserat.
d. Batasi konsumsi lemak, minyak dan santan.
e. Gunakan garam yang beryodium
f. Makanlah makanan yang mengandunf sumber zat besi yaitu
sayuran berwarna hijau, kacang-kacangan dan daging hewani.
g. Biasakan makan pagi
h. Minumlah air bersih, aman dan cukup jumlahnya,
i. Lakukan kegiatan fisik dan latihan jasmani secara teratur
j. Hindari minuman beralkohol
k. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan
4. Manfaat Latihan Jasmani Bagi
Pasien Diabetes
Para ahli
percaya bahwa latihan jasmani merupakan salah satu cara penatalaksanaan DM
meskipun penelitian tentang manfaat latihan jasmani bagi pasien DM masih
kurang. Dari data yang diperoleh pada suatu penelitian di USA ditemukan bahwa
resiko menderita penyakit DM lebih rendah pada kelompok yang berolahraga 5 kali
seminggu dibandingkan dengan kelompok yang berolahraga 1 kali seminggu (4,5). Hendaknya
latihan jasmani yang dilakukan oleh penyandang DM tetap mengikuti
prinsip-prinsip umum latihan jasmani bahkan sangat dianjurkan untuk mengikuti
prinsip tersebut dengan ketat dan seksama. Hal ini disebabkan oleh efek samping
latihan jasmani pada pasien DM cukup memahayakan. Oleh karena itu peran dokter
maupun edukator sangat diperlukan untuk mengawasi latihan jasmani tersebut.
Adapun tahapan kegiatan yang telah baku digunakan dan dianjurkan oleh para ahli
olah raga yaitu :
- Pemanasan (warm- up)
-
latihan inti (conditioning)
-
Pendinginan (cool-down)
-
Peregangan (streching)
Hal-hal yang
perlu diperhatikan oleh pasien DM ketika melakukan latihan jasmani adalah
keadaan hipoglikemia terutama bagi yang mendapat terapi dengan suntikan
insulin. Dianjurkan agar latihan jasmani dilakukan setelah makan ketika kadar
glukosa darah pada puncaknya. Pagi hari merupakan saat yang paling baik untuk
melakukan latihan jasmani. Oleh karena pada saat melakukan latihan jasmani
pasien DM kemungkinan terjadi hipoglikemia maka sangat dianjurkan untuk
melakukan latihan jasmani secara berkelompok. Sebelim mengikuti suatu kegiatan
latihan jasmani sebaiknya pasien DM berkonsultasi dengan dokter atau edukator.
Biasanya akan dilakukan pemeriksaan kesehatan dan kebugaran terlebih dahulu
kemudian baru disusun program latihan yang sesuai.
BAB VI
PENUTUP
Diabetes
adalah suatau kumpulan gejala yang ditandai dengan peningkatan gula darah yang
disebabkan oleh adanya kelainan pada sel beta pankreas. Adanya diabetes dapat
ditandai dengan gejala klasik yaitu banyak makan, banyak minum dan rasa haus
yang berlebihan, namun ada pula yang tidak merasakan adanya keluhan. Diagnosis
pasti diabetes ditegakkan dengan pemeriksaan gula darah puasa yaitu ≥126 mg/dL
atau gula darah sewaktu ≥ 200 mg/dL.
Adapun
tujuan pengelolaan DM jangka pendek adalah menghilangkan keluhan atau gejala
dan mempertahankan rasa nyaman dan sehat. Namun jika tidak dikelola dengan baik
akan mengakibatkan terjadinya berbagai penyakit menahun seperti penyakit
jantung koroner, stroke, penyakit pembuluh darah tungkai dan penyulit lain pada
mata, ginjal dan saraf. Ada empat pilar utama dalam pengelolaan DM yaitu
edukasi, perencanaan makan, latihan jasmani dan obat-obatan.
|








