Rabu, 08 September 2010
Ulti Clocks content

Sedang Online
Kami memiliki 20 Tamu onlineData Pengunjung







![]() | Hari ini | 138 |
![]() | Kemarin | 433 |
![]() | Minggu ini | 938 |
![]() | Bulan ini | 2600 |
![]() | Total Pengunjung | 264692 |
Login Area
| MANAJEMEN STRES - 2 |
|
|
|
| Ditulis oleh dr. Titis Diah Budiningwati SpKJ | ||||||||||
| Kamis, 25 Februari 2010 15:13 | ||||||||||
Halaman 3 dari 4
GEJALA-GEJALA STRES
Stres mempengaruhi seluruh
diri kita. Kondisi stres
dapat diamati dari gejala-gejalanya, baik gejala emosional/kognitif maupun
gejala fisik. Jika kita dapat menandai gejala-gejalanya, maka kita akan
dapat mengelolanya. 3,4,8
Seseorang yang stres tidak berarti harus memiliki/menampakkan seluruh
gejala ini, bahkan satu gejala pun sudah bisa kita curigai sebagai pertanda
bahwa seseorang mengalami stres. Namun kita juga perlu menyadari bahwa
gejala-gejala ini bisa juga merupakan indikator dari masalah lain, misalnya
karena memang benar ada gangguan kesehatan secara fisik.
Tabel berikut menggambarkan
gejala-gejala stres:3,6,9
TATALAKSANA
Manajemen atau penatalaksanaan
stres pada tahap pencegahan dan terapi memerlukan suatu metode pendekatan yang
bersifat holistik, yaitu yang mencakup fisik (somatik), psikologik/psikiatrik,
psikososial dan religius. Di bidang pencegahan agar seseorang tidak jatuh dalam
keadaan stres, maka sebaiknya ketahanan yang bersangkutan perlu ditingkatkan
agar mampu menanggulangi stressor (penyebab) psikososial yang muncul. dan
sebagainya.8
1. Secara fisik: kebutuhan
dasar manusia dipenuhi mengkonsumsi makanan dan minuman yang cukup gizi. Tidur
dan istirahat yang cukup.Tidur adalah obat alamiah yang dapat
memulihkan segala keletihan fisik dan mental. Â Rekreasi seperti menonton acara-acara hiburan di televisi,
berolahraga secara teratur, melakukan tai chi, yoga, relaksasi otot, penyaluran
kearah positif.  Vitamin, imunisasi . Jaga kondisi supaya tidak sakit.8,9
2. Secara
mental yang disadari, yang disebut sebagai direct coping, yaitu
seseorang secara sadar melakukan upaya untuk mengatasi stres. Jadi pengelolaan stres dipusatkan pada
masalah yang menimbulkan stres. Ada dua strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasi stres, yaitu:
a. Meningkatkan toleransi terhadap stres,
dengan cara meningkatkan keterampilan/kemampuan diri sendiri, baik secara fisik
maupun psikis, misalnya, Secara psikis: menyadarkan diri sendiri bahwa stres
memang selalu ada dalam setiap aspek kehidupan dan dialami oleh setiap orang,
walaupun dalam bentuk dan intensitas yang berbeda.8 Di
dalam upaya-upaya yang dapat dilakukan sendiri termasuk upaya-upaya
yang pada umumnya dapat dilakukan oleh individu
tersebut sendiri, misalnya upaya-upaya dimana stres dihadapi
secara awam hingga upaya-upaya yang sebetulnya bersifat psikoterapeutik. Di
sini dimaksudkan antara lain memperbanyak stress
coping skills.
Tergantung dari kekuatan kepribadian serta pengalaman belajar dan aset yang dimiliki oleh
individu tersebut dalam menghadapi stres. Contoh adalah stres yang mirip dengan
yang pernah dialami sebelumnya dapat dihadapi dengan menggunakan strategi yang
sebelumnya berhasil.9
b. Mengenal
dan mengubah sumber stres,3,8,9 yang dapat dilakukan dengan tiga
macam
pendekatan, yaitu: (a) bersikap asertif,
yaitu berusaha mengetahui, menganalisis, dan mengubah sumber stres. Misalnya:
bila ditegur pimpinan, maka respon yang ditampilkan bukan marah, melainkan
menganalisis mengapa sampai ditegur; (b)Â menarik diri/menghindar dari
sumber stres. Tindakan ini biasanya dilakukan bila sumber stres tidak dapat
diatasi dengan baik. Namun cara ini sebaiknya tidak dipilih karena akan
menghambat pengembangan diri. Kalaupun dipilih, lebih bersifat sementara,
sebagai masa penangguhan sebelum mengambil keputusan pemecahan masalah, dan
c kompromi, yang bisa dilakukan dengan konformitas (mengikuti tuntutan sumber
stres, pasrah) atau negosiasi (sampai batas tertentu menurunkan intensitas
sumber stres dan meningkatkan toleransi terhadap stres
Dalam hal
ini terdapat  cara terapi yang tentunya
perlu bimbingan terapis seperti terapi kognitif, assertiveness training, social skills training, teknik
imagery,
desensitisasi sistematik dan lain-lain.9
Meditasi
merupakan upaya mencari ketenangan dengan cara tertentu, yang dapat diajarkan
sambil diawasi serta kemudian dapat dilakukan sendiri bila telah menguasai
tekniknya. Ada yang mengatakan bahwa meditasi lebih cepat mengembalikan seseorang
ke dalam ekuilibrium sesudah pengalaman stres 10
Hipnosis merupakan
suatu alat terapi dalam dunia kedokteran,sehingga dikenal sebagai medical hypnosis. Ada
hipnosis yang dibimbing oleh terapis dan ada pula yang dapat diajarkan untuk dilakukan
sendiri, yang kita kenal sebagal auto-hypnosis. Didalam keadaan trance hipnosis seseorang dapat
diberikan sugesti-sugesti.9
Terapi kognitif
- perilaku yang berupaya melatih keterampilan pengatasan umum (general coping skills) dapat
dipergunakan dalam kondisi stres yang tinggi serta adanya kegelisahan. Terapi
terdiri dari 3 fase, yaitu fase pendidikan, membuat pasien menyadari
permasalahannya dapat diatasi dengan memiliki keterampilan-keterampilan
pengatasan yang tepat, berikutnya adalah fase latihan, dimana pasien
diperkenalkan kepada dan dilatih penggunaannya berbagai respons pengatasan
kognitif dan perilaku , dan terakhir adalah fase aplikasi, dimana pasien harus
melatih diri untuk mempergunakan respons-respons tersebut dalam menghadapi situasi situasi
stres secara bertahap. Terapi ini telah dipergunakan secara luas untuk mengatasi
berbagai kondisi secara baik.9
Psikoterapi dan konseling dapat
diberikan untuk mengatasi kondisi stres. Konseling biasanya diberikan oleh awam
yang berminat untuk itu, seperti guru-guru sekolah, ulama, pimpinan organisasi
tertentu, dan lain-lain. Dalam konseling permasalahan dievaluasi dan diberikan
pemecahan secara lebih direktif sifatnya, yang tentunya tergantung dari wibawa
dan kharisma sang konselor. Untuk konseling sebaiknya konselor mengalami pelatihan
sebelumnya agar ia terampil dalam teknik dan menguasai bidang di dalam mana
konseling ditujukan. Psikoterapi diberikan selain oleh psikiater, juga oleh
ahli psikologi, 9
Bila
dengan semua ini belum berhasil perlu ditambahÂ
psikofarmaka seperti anti ansietas, anti depresi atau anti psikotik., tergantung
dari gejala yang tampak.
|










