Jumat, 10 September 2010
Ulti Clocks content

Sedang Online

Kami memiliki 7 Tamu online

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini28
mod_vvisit_counterKemarin343
mod_vvisit_counterMinggu ini1627
mod_vvisit_counterBulan ini3289
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung265382

Login Area




 
MANAJEMEN STRES PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh dr. Titis Diah Budiningwati SpKJ   
Kamis, 25 Februari 2010 15:13
Indeks Artikel
MANAJEMEN STRES
Pendahuluan
2
Kepustakaan
Semua Halaman
MANAJEMEN STRES
(dr. Titis Diah Budiningwati SpKJ)
RS. Moh Ridwan Meuraksa



PENDAHULUAN

Dewasa ini perubahan tata nilai kehidupan berjalan begitu cepat karena pengaruh globalisasi. Masyarakat menghadapi masalah yang semakin beragam sebagai akibat modernisasi dan perkembangan dunia. Masalah hubungan sosial dan tuntutan lingkungan seiring harapan untuk meningkatkan pencapaian diri ketidak sanggupan pribadi untuk memenuhi tuntutan tersebut bisa menimbulkan stres dalam diri seseorang. Beberapa faktor penyebab umum dari stres antara lain : masalah pekerjaan, ujian, problem rumah tangga, sakit ,kurang tidur ,dan banyak lainnya.1

Perubahan psikososial dapat merupakan tekanan mental (stressor psikosial) sehingga bagi sebagian individu dapat menimbulkan perubahan dalam kehidupan dan berusaha beradaptasi untuk menanggulanginya. Stresor psikososial, seperti perceraian  dalam rumah tangga, masalah orang tua dengan banyaknya kenakalan remaja, hubungan interpersonal yang tidak baik dengan teman dan sebagainya. Namun, tidak semua orang dapat beradaptasi dan mengatasi stressor akibat perubahan tersebut sehingga sehingga ada yang mengalami stres, gangguan penyesuaian diri, maupun sakit.2

Penelitian menunjukkan bahwa stres memberi kontribusi 50 sampai 70 persen terhadap timbulnya sebagian besar penyakit seperti penyakit kardiovaskuler, hipertensi, kanker, penyakit kulit, infeksi, penyakit metabolik dan hormon, serta lain sebagainya. Ketika seseorang mengalami stres yang berat, akan memperlihatkan tanda-tanda mudah lelah, sakit kepala, hilang nafsu, mudah lupa, bingung, gugup, kehilangan gairah seksual, kelainan pencernaan dan tekanan darah tinggi.1 Orang hidup tidak mungkin terhindar dari stres untuk itu kita harus dapat menyikapi dan mengelola stres dengan baik sehingga kualitas hidup kita menjadi lebih baik.

PENGERTIAN STRES

Stres dapat didefinisikan sebagai semua jenis perubahan yang menyebabkan fisik,emosi atau tekanan psikologis.  Stres adalah respons mental seseorang dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Stres adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri dan karena itu sesuatu yang mengganggu kita  ( Maramis ).2,3

Stres adalah suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam yang menimbul;kan suatu ketegangan dalam diri seseorang ( Soeharto Heerdjan 1987).  Hal ini merupakan kondisi mental yang secara subyektif tidak menyenangkan pada manusia. Stres bersumber dari internal dan eksternal. Stres menyebabkan kemampuan seseorang menghadapi masalah menurun dan menimbulkan berbagai keluhan psikis (mental emosional) maupun fisik. Stres menyebabkan hambatan dalam kehidupan psikososial (pergaulan, pekerjaan, penggunaan waktu senggang)3,6

Vincent Cornelli mengatakan stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntunan kehidupan,yang dipengaruhi oleh lingkungan maupun penampilan individu didalam lingkungan tersebut sedangkan  Dadang hawari (2000) stres adalah suatu bentuk ketegangan yang mempengaruhi fungsi alat-alat tubuh.3Stress is a feeling that's created when we react to particular events.

Stres adalah perasaan yang tercipta ketika kita bereaksi terhadap kejadian tertentu. It's the body's way of rising to a challenge and preparing to meet a tough situation with focus, strength, stamina, and heightened alertness. Ini adalah cara tubuh naik ke sebuah tantangan dan bersiap-siap untuk memenuhi situasi yang sulit dengan fokus, kekuatan, stamina, dan peningkatan kewaspadaan danThe events that provoke stress are called stressors , and they cover a whole range of situations - everything from outright physical danger to making a class presentation or taking a semester's worth of your toughest subject. peristiwa-peristiwa yang menimbulkan stres disebut stresor .3.4,5

Stres tidak selalu berarti sakit, dalam taraf tertentu stres bermanfaat untuk mengembangkan kepribadian. Stres adalah realitas kehidupan setiap hari yang tidak dapat dihindari yang disebabkan oleh perubahan yang memerlukan penyesuaian atau adaptasi   ( Dafis 1988). Stres adalah sebuah kondisi dimana sistim respon manusia berubah keseimbangannya (Lilis1997).3



MEKANISME TUBUH MENGHADAPI STRES

Respon  Stres :

Bila mendapatkan stresor tubuh manusia akan berusaha mengadakan perlawanan dengan mencari keseimbangan. Stres dapat memicu  respon tubuh terhadap ancaman atau bahaya yang dirasakan, yang fight atau flight respon. Tubuh manusia merespon stres dengan mengaktifkan sistem saraf dan hormon tertentu. The hypothalamus signals the adrenal glands to produce more of the hormones adrenaline and cortisol and release them into the bloodstream.3,5

Hipotalamus memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk memproduksi lebih banyak hormon adrenalin dan kortisol serta melepaskan mereka ke dalam aliran darah. These hormones speed up heart rate, breathing rate, blood pressure, and metabolism. Hormon-hormon ini mempercepat denyut jantung, laju pernafasan, tekanan darah, dan metabolisme. Blood vessels open wider to let more blood flow to large muscle groups, putting our muscles on alert. Pembuluh darah terbuka lebih lebar untuk membiarkan lebih banyak darah mengalir ke otot besar. Pupils dilate to improve vision. Pupil melebar untuk memperbaiki penglihatan. The liver releases some of its stored glucose to increase the body's energy. Glukosa yang  sebagian disimpan  dilepaskan untuk meningkatkan energi tubuh. And sweat is produced to cool the body. Kemudian keringat dihasilkan untuk mendinginkan tubuh. 3,5,6

All of these physical changes prepare a person to react quickly and effectively to handle the pressure of the moment.Awalnya kemampuan ini untuk kita secara fisik melawan bahaya. Ketika bahaya sudah hilang  sistem dirancang kembali ke fungsi normal. Bila kita mengalami stres yang lama atau terus menerus maka tubuh akan mengalami banyak perubahan seperti meningkatnya tekanan darah dan peningkatan hormon stres yang terus menerus dapat mengakibatkan penekenan terhadap sistem kekebalan tubuh sehingga risiko terjadinya infeksi semakin meningkat. 6

Reaksi Adaptasi Terhadap Stres 3,4,

Seberapa banyak, lama, dan berat keberadaan gejala-gejala stres menggambarkan pada tahap mana reaksi seseorang terhadap stres yang dialaminya.

Penolakan (denial) : menyangkal atau tidak percaya atau belum menerima bahwa ia mengetahui penyakit tersebut.

Marah: Marah kepada orang lain atau bahkan kepada Tuhan

Depresi : sedih, bersalah, merasa bahwa ia memang patut mengalami kondisi sakitnya sekarang. Sering juga individu mengkait-kaitkan penyakit yang dialami dengan perbuatannya di masa lalu.

Kecemasan: Merasa cemas dan tegang setelah mengetahui, menjadi berpikir dan mengantisipasi ke masa yang akan datang, bagaimana menghadapi hidup selanjutnya dengan kondisi yang sekarang dialami tersebut.

Tawar-menawar: Mulai dapat menerima, tetapi di saat yang sama juga masih sulit membayangkan harus mengalami kondisi yang berubah tersebut.

Menerima

Sudah dapat menerima keadaan yang berubah tersebut, sehingga dapat menjalani hidup dengan lebih nyaman.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB STRES 3,4,7,8

Secara umum, faktor penyebab stres meliputi:

1. Ancaman. Persepsi tentang adanya ancaman membuat seseorang merasa stres, baik ancaman fisik, sosial, finansial, maupun ancaman lainnya. Keadaan akan menjadi buruk bila orang yang mempersepsikan tentang adanya ancaman ini merasa bahwa dirinya tidak dapat melakukan tindakan apa pun yang akan bisa mengurangi ancaman tersebut.

2. Ketakutan. Ancaman bisa menimbulkan ketakutan. Ketakutan membuat orang membayangkan akan terjadinya akibat yang tidak menyenangkan, dan hal ini membuat orang menjadi stres.

3. Ketidak pastian. Saat kita merasa tidak yakin tentang sesuatu, maka kita akan sulit membuat prediksi. Akibatnya kita merasa tidak akan dapat mengendalikan situasi. Perasaan tidak mampu mengendalikan situasi akan menimbulkan ketakutan. Rasa takut menyebabkan kita merasa stres.

4. Disonansi kognitif. Bila ada kesenjangan antara apa yang kita lakukan dengan apa yang kita pikirkan, maka dikatakan bahwa kita mengalami disonansi kognitif, dan hal ini akan dirasakan sebagai stres. Sebagai contoh, bila kita merasa bahwa kita adalah orang yang baik, namun ternyata menyakiti hati orang lain, maka kita akan mengalami disonansi dan merasa stres. Disonansi kognitif juga terjadi bila kita tidak dapat menjaga komitmen. Kita yakin bahwa diri kita jujur dan tepat janji, namun adakalanya situasi/lingkungan tidak mendukung kita untuk jujur atau tepat janji. Hal ini akan membuat kita merasa stres karena kita terancam dengan sebutan tidak jujur atau tidak mampu menepati janji.

Faktor lain yang bisa menimbulkan stres adalah kehidupan sehari-hari,3,6 seperti:

1.  Kematian, baik kematian pasangan, keluarga, maupun teman
2.  Kesehatan: kecelakaan, sakit, kehamilan
3.  Kejahatan: penganiayaan seksual, perampokan, pencurian, pencopetan.
4.  Penganiayaan diri: penyalahgunaan obat, alkoholisme, melukai diri sendiri
5.  Perubahan keluarga: perpisahan, perceraian, kelahiran bayi, perkawinan.
6.  Masalah seksual
7.  Pertentangan pendapat: dengan pasangan, keluarga, teman, rekan kerja, pimpinan
8.  Perubahan fisik: kurang tidur, jadual kerja baru.
9.  Tempat baru: berlibur, pindah rumah
10.  Keuangan: kekurangan uang, memiliki uang, menginvestasikan uang.
11.  Perubahan lingkungan: di sekolah, di rumah, di tempat kerja, di kota, masuk penjara.
12.  Peningkatan tanggung jawab: adanya tanggungan baru, pekerjaan baru

Beberapa situasi stres dapat ekstrim dan mungkin memerlukan perhatian khusus dan perawatan. Gangguan stres pasca trauma ( PTSD) adalah  reaksi stres yang dapat berkembang pada orang-orang yang telah hidup melalui peristiwa yang sangat traumatis, seperti kecelakaan mobil yang serius, bencana alam seperti gempa bumi , atau serangan seperti pemerkosaan. Some people have anxiety problems that can cause them to overreact to stress, making even small difficulties seem like crises.


GEJALA-GEJALA STRES

Stres mempengaruhi seluruh diri kita. Kondisi stres dapat diamati dari gejala-gejalanya, baik gejala emosional/kognitif maupun gejala fisik. Jika kita dapat menandai gejala-gejalanya, maka kita akan dapat mengelolanya. 3,4,8

Seseorang yang stres tidak berarti harus memiliki/menampakkan seluruh gejala ini, bahkan satu gejala pun sudah bisa kita curigai sebagai pertanda bahwa seseorang mengalami stres. Namun kita juga perlu menyadari bahwa gejala-gejala ini bisa juga merupakan indikator dari masalah lain, misalnya karena memang benar ada gangguan kesehatan secara fisik.

Tabel berikut menggambarkan gejala-gejala stres:3,6,9

Gejala Emosional/Kognitif

Gejala Fisik / Psikosomatik

  • Mudah merasa ingin marah
  • Merasa putus asa saat harus menunggu sesuatu
  • Merasa gelisah
  • Tidak dapat berkonsentrasi
  • Sulit berkonsentrasi
  • Jadi mudah bingung
  • Bermasalah dengan ingatan (mudah lupa, susah mengingat)
  • Setiap saat memikirkan hal-hal negatif
  • Berpikir negatif tentang diri sendiri
  • Mood naik turun (mood mudah berubah-ubah, misalnya merasa gembira tapi tak lama kemudian merasa bosan dan ingin marah)
  • Makan terlalu banyak
  • Makan padahal tidak lapar
  • Merasa tidak memiliki cukup energi untuk menyelesaikan sesuatu
  • Merasa tidak  mampu mengatasi masalah
  • Sulit membuat keputusan
  • Emosi suka meluap-luap (baik gembira, sedih, marah, dan sebagai- nya)
  • Biasanya merasa marah dan bosan
  • Kurang memiliki sense of humor
  • Otot-otot tegang
  • Sakit punggung bagian bawah
  • Sakit di bahu atau leher
  • Sakit dada
  • Sakit perut
  • Kram otot
  • Iritasi atau ruam kulit yang tidak dapat dijelaskan kategorinya
  • Denyut jantung cepat
  • Telapak tangan berkeringat
  • Berkeringat padahal tidak melakukan aktivitas fisik
  • Perut terasa bergejolak
  • Gangguan pencernaan dan cegukan
  • Diare
  • Tidak dapat tidur atau tidur berlebihan
  • Napas pendek
  • Menahan napas

TATALAKSANA

Manajemen atau penatalaksanaan stres pada tahap pencegahan dan terapi memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu yang mencakup fisik (somatik), psikologik/psikiatrik, psikososial dan religius. Di bidang pencegahan agar seseorang tidak jatuh dalam keadaan stres, maka sebaiknya ketahanan yang bersangkutan perlu ditingkatkan agar mampu menanggulangi stressor (penyebab) psikososial yang muncul. dan sebagainya.8

1. Secara fisik: kebutuhan dasar manusia dipenuhi mengkonsumsi makanan dan minuman yang cukup gizi. Tidur dan istirahat yang cukup.Tidur adalah obat alamiah yang dapat memulihkan segala keletihan fisik dan mental.  Rekreasi seperti menonton acara-acara hiburan di televisi, berolahraga secara teratur, melakukan tai chi, yoga, relaksasi otot, penyaluran kearah positif.  Vitamin, imunisasi  . Jaga kondisi supaya tidak sakit.8,9

2. Secara mental yang disadari, yang disebut sebagai direct coping, yaitu seseorang secara sadar melakukan upaya untuk mengatasi stres. Jadi pengelolaan stres dipusatkan pada masalah yang menimbulkan stres. Ada dua strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasi stres, yaitu:

a. Meningkatkan toleransi terhadap stres, dengan cara meningkatkan keterampilan/kemampuan diri sendiri, baik secara fisik maupun psikis, misalnya, Secara psikis: menyadarkan diri sendiri bahwa stres memang selalu ada dalam setiap aspek kehidupan dan dialami oleh setiap orang, walaupun dalam bentuk dan intensitas yang berbeda.8 Di dalam upaya-upaya yang dapat dilakukan sendiri termasuk upaya-upaya yang pada umumnya dapat dilakukan oleh individu tersebut sendiri, misalnya upaya-upaya dimana stres dihadapi secara awam hingga upaya-upaya yang sebetulnya bersifat psikoterapeutik. Di sini dimaksudkan antara lain memperbanyak stress coping skills. Tergantung dari kekuatan kepribadian serta pengalaman belajar dan aset yang dimiliki oleh individu tersebut dalam menghadapi stres. Contoh adalah stres yang mirip dengan yang pernah dialami sebelumnya dapat dihadapi dengan menggunakan strategi yang sebelumnya berhasil.9

b. Mengenal dan mengubah sumber stres,3,8,9 yang dapat dilakukan dengan tiga macam
pendekatan, yaitu:  (a) bersikap asertif, yaitu berusaha mengetahui, menganalisis, dan mengubah sumber stres. Misalnya: bila ditegur pimpinan, maka respon yang ditampilkan bukan marah, melainkan menganalisis mengapa sampai ditegur; (b)  menarik diri/menghindar dari sumber stres. Tindakan ini biasanya dilakukan bila sumber stres tidak dapat diatasi dengan baik. Namun cara ini sebaiknya tidak dipilih karena akan menghambat pengembangan diri. Kalaupun dipilih, lebih bersifat sementara, sebagai masa penangguhan sebelum mengambil keputusan pemecahan masalah, dan

c kompromi, yang bisa dilakukan dengan konformitas (mengikuti tuntutan sumber stres, pasrah) atau negosiasi (sampai batas tertentu menurunkan intensitas sumber stres dan meningkatkan toleransi terhadap stres

Dalam hal ini terdapat  cara terapi yang tentunya perlu bimbingan terapis seperti terapi kognitif, assertiveness training, social skills training, teknik imagery, desensitisasi sistematik dan lain-lain.9

Meditasi merupakan upaya mencari ketenangan dengan cara tertentu, yang dapat diajarkan sambil diawasi serta kemudian dapat dilakukan sendiri bila telah menguasai tekniknya. Ada yang mengatakan bahwa meditasi lebih cepat mengembalikan seseorang ke dalam ekuilibrium sesudah pengalaman stres 10

Hipnosis merupakan suatu alat terapi dalam dunia kedokteran,sehingga dikenal sebagai medical hypnosis. Ada hipnosis yang dibimbing oleh terapis dan ada pula yang dapat diajarkan untuk dilakukan sendiri, yang kita kenal sebagal auto-hypnosis. Didalam keadaan trance hipnosis seseorang dapat diberikan sugesti-sugesti.9

Terapi kognitif - perilaku yang berupaya melatih keterampilan pengatasan umum (general coping skills) dapat dipergunakan dalam kondisi stres yang tinggi serta adanya kegelisahan. Terapi terdiri dari 3 fase, yaitu fase pendidikan, membuat pasien menyadari permasalahannya dapat diatasi dengan memiliki keterampilan-keterampilan pengatasan yang tepat, berikutnya adalah fase latihan, dimana pasien diperkenalkan kepada dan dilatih penggunaannya berbagai respons pengatasan kognitif dan perilaku , dan terakhir adalah fase aplikasi, dimana pasien harus melatih diri untuk mempergunakan respons-respons tersebut dalam menghadapi situasi situasi stres secara bertahap. Terapi ini telah dipergunakan secara luas untuk mengatasi berbagai kondisi secara baik.9

Psikoterapi dan konseling dapat diberikan untuk mengatasi kondisi stres. Konseling biasanya diberikan oleh awam yang berminat untuk itu, seperti guru-guru sekolah, ulama, pimpinan organisasi tertentu, dan lain-lain. Dalam konseling permasalahan dievaluasi dan diberikan pemecahan secara lebih direktif sifatnya, yang tentunya tergantung dari wibawa dan kharisma sang konselor. Untuk konseling sebaiknya konselor mengalami pelatihan sebelumnya agar ia terampil dalam teknik dan menguasai bidang di dalam mana konseling ditujukan. Psikoterapi diberikan selain oleh psikiater, juga oleh ahli psikologi, 9

Bila dengan semua ini belum berhasil perlu ditambah  psikofarmaka seperti anti ansietas, anti depresi atau anti psikotik., tergantung dari gejala yang tampak.

KEPUSTAKAAN

1. Hartono A, Budiwiyono I : Pengaruh Stres Akibat Cemas Ujian Semester terhadap Jumlah Leukosit Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Angkatan 2001, Media Medika Muda , Januari - Juni 2006

2. Maramis, W.F., 1980, Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga Univeristy Press, Surabaya.

3. Vivien : Stress, Indoskripsi.com , 2010

4. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Kaplan and Sadock's Synopsis of Psychiatry,  Behavioral Sciences, Clinical Psychiatry. seventhed. Baltimore: Williams & Wilkins, 1994: 1, 181-182,200, 575,753.

5. Scott .E : Stress How It Affects Your Body and How You Can Healthier , About com Guide, 4 Mei 2009

6. Koo.I : Sick of Stress or Sick from Stress? Stress Induced Infectious Diseases , About. Com. Guide, 17 Desember 2008

7. Adikusumo A. Stres bahan kuliah untuk Paket KKD, FKUI, 1993.

8. Mengelola Stres :Diambil  dari Materi Pembinaan Profesi Pengawas Sekolah. Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Nasional. 2008

9. Adikusumo A.Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 23-29,  1999

10.  Suryani LK. Meditasi menuju Hidup Bahagia. Denpasar: FFBP, cetakan kedua 1996.